Protes Cerdas, Republika Jadikan Halaman Utamanya 'Berasap'


Islamoderat.com ~ Bencana nasional kabut asap hasil kebakaran hutan membuat semua pihak rugi. Terlebih masyarakat yang terkena dampak kabut asap ini. Ditambah, pemerintah terkesan tidak peduli dengan bencana ini, meskipun presiden telah meminta bantuan ke 4 negara untuk memadamkan kebakaran



Peristiwa demi peristiwa ini menimbulkan protes yang cukup banyak, salah satunya dari koran nasional Republika dengan menurunkan versi koran yang berasap, dan bertuliskan, 'saat tertutup asap, semua berita menjadi sulit dibaca.'

Berita utama dengan judul "Harga Solar Turun" dan sejumlah berita lain di halaman depan menjadi sulit dibaca karena tertutup lapisan abu-abu. Di bawah halaman, satu baris kalimat menjelaskan, "saat tertutup asap, semua berita menjadi sulit dibaca."

Langkah Republika terkait masalah kabut asap diapresiasi oleh pengguna media sosial dan topik ini sempat menjadi salah satu yang terpopuler di Twitter.

"Keren," kata satu pengguna Twitter. Lainnya mengatakan, "protes cerdas".

"Pesan secara grafis halaman depan Republika hari ini keren banget. Kalau pemerintah masih buta dan tuli kebangeten!" kata @h_elshirazy di Twitter.

Namun ada juga yang mempertanyakan. "Protesnya bagus, tapi yang jadi pertanyaannya yang diprotes itu masih punya perasaan enggak," kata Muhammad Azis Khamdani, melalui Facebook BBC Indonesia.

Lainnya, mengatakan, "simpati dan dukungan memang baik dibarengi dengan tindakan lebih baik."

Pemimpin Redaksi Republika Nasihin Masha kepada BBC Indonesia mengatakan desain halaman depan itu bukan dimaksudkan untuk mengkritik atau memprotes pemerintah, tetapi untuk mengetuk hati semua orang.

"Dalam semua berita (Republika) tidak ada protes, kita hanya mengungkap fakta-fakta saja, karena protes itu tidak mempan juga dalam sistem politik kita selama bertahun-tahun ini," katanya.

"(Kami) Tidak bermaksud mengkritik ke pemerintah, tapi ke semua, karena kami berpendapat publik ambivalen juga dalam masalah kabut asap. Sudah jelas siapa pihak yang membakar hutan, tetapi kita tetap menerima secara sosial produk-produknya, ada kemunafikan pada diri kita."

Nasihin mengatakan surat kabarnya memilih untuk fokus pada pengungkapan fakta sosial terutama terkait kaum-kaum yang rentan terhadap asap karena melihat bahwa persoalan ini telah "bertahun-bertahun terjadi tanpa perubahan."

Lantas apakah ini menunjukan keberpihakan Republika terhadap masalah kabut asap? "Jelas, pers Indonesia sejarahnya panjang sekali selalu berpihak pada kepentingan publik," sambungnya.

via bbcindonesia.com