Islamoderat.com ~ Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dikabarkan mengeksekusi salah satu pemimpin seniornya karena dituduh berencana melakukan pemberontakan. Abu Usman al-Hassan, nama pemimpin senior ISIS yang berkedudukan di Mosul itu, diyakini dieksekusi pada pekan lalu.
Berdasarkan sejumlah laporan, Al-Hassan dihukum mati setelah menjalani sebuah sidang pengadilan yang singkat. Dalam persidangan singkat itu Al-Hassan dianggap terbukti tengah merencanakan konspirasi.
Setelah dinyatakan bersalah Al-Hassan kemudian dieksekusi di sebuah basis militer ISIS di sisi barat kota Mosul. Namun, tidak diketahui dengan cara apa Al-Hassan dieksekusi. Seorang saksi mata kepada Iraq Press mengatakan Al-Hassan diadili setelah terjadi perselisihan berkepanjangan antara dia dan para wakilnya.
Saksi lain mengatakan, saat para pejuang asing datang dan mulai memiliki pengaruh maka Mosul terbelah menjadi kamp Arab dan non-Arab. Kelompok Arab ini dipimpin Al-Hassan sehingga tak heran jika setelah kematian Al-Hassan banyak anak buahnya yang memilih pindah dari Mosul ke Raqqa.
Menurut harian Business Insider, sejumlah anggota ISIS asal Arab Saudi mulai meninggalkan Mosul sebagai protes kematian Al-Hassan. Padahal, para warga Saudi dan Suriah itu merupakan bagian terbesar dalam pasukan militer ISIS.
Mereka yang meninggalkan Mosul karena frustrasi dengan para pemimpin di Mosul dikabarkan memilih pindah ke kota Raqqa, Suriah yang dijadikan ibu kota kekalifahan oleh ISIS.
Sesampainya di Raqqa, mereka kemungkinan akan mengajukan keluhan resmi terkait eksekusi terhadap Al-Hassan kepada pemimpin tertinggi ISIS atau mengajukan permohonan agar mereka dipindah di bawah kendali wilayah lainnya.
sumber Daily Mail via Kompas